Musik bisa Jadi Alat Pendeteksi Kepribadian Seseorang

Musik bisa Jadi Alat Pendeteksi Kepribadian SeseorangKetika bincang-bincang soal musik, pasti tidak jauh-jauh dari selera. Tapi bagaimana kalau ternyata musik bisa menjadi alat pendeteksi kepribadian seseorang? Meski masih bersifat spekulatif, namun penelitian tentang alasan ketertarikan seseorang terhadap musik terus dikembangkan. Pada dasarnya, hidup ini juga bisa ditafsirkan sebagai musik. Ada awal, tengah, dan akhir. Di antara ketiganya ada irama dan rasa.

Di dunia ini telah tercipta banyak sekali jenis musik. Beberapa yang terkenal itu musik dangdut, pop, rock, RnB, Rap, tradisional, blues, techno, jazz, metal, dan klasik. Masing-masing jenis musik ada penggemarnya. Soal selera memang sulit diterjemahkan alasannya apa. Setiap individu ada yang suka dengan satu jenis musik saja. Ada pula yang suka dengan semuanya. Tapi setiap manusia pasti punya kecenderungan.

Kecenderungan itu juga tampak pada pemilihan musik yang paling mendominasi. Ada cara termudah untuk mengecek selera musik seseorang. Coba pinjam ponselnya. Cari dari sederetan lagu yang ia punya, manakah yang lebih mendominasi? Kalau ternyata tidak ada lagunya? Bisa didengarkan lagu yang kerap ia nyanyikan via bibir.

Sebuah penelitian dari New York sampai meneliti musik yang cenderung disukai oleh psikopat. Seperti yang umum diketahui, bahwa psikopat merupakan kelainan jiwa. Salah satu psikopat paling terkenal sepanjang sejarah bernama Adolf Hitler. Saat Adolf Hitler menguasai Jerman, ia melakukan hal-hal gila dan di luar batas. Bahkan tak segan-segan menerapkan kebijakan yang kejam, asalkan dia merasa senang.

Beberapa kekejamannya telah terangkum dalam sejarah. Semua orang di bawah kekuasaannya tentu melihat saat ia memerintahkan untuk membunuh ratusan ribu orang yang punya bentuk fisik jelek. Ia tidak mau rasnya dicampuri oleh orang dengan bentuk tubuh yang kurang menarik baginya. Rupanya Adolf Hitler melakukan semua itu gara-gara terinspirasi oleh kejahatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia.

Sejumlah sutradara film psikopat menilai bahwa penyuka musik klasik bisa punya kemungkinan seperti Hitler. Namun para peneliti berpendapat lain. Orang yang mengidap kelainan jiwa psikopat lebih suka mendengar musik rap. Kalangan peneliti itu berpendapat bahwa orang psikopat memiliki kecenderungan empati yang rendah. Sementara musik seperti karya Eminem, misalnya, cenderung bodo amat.

Lantas, bagaimana dengan orang yang berkepribadian penuh empati dan jauh dari sifat psikopat? Mereka menggolongkan bahwa pribadi yang super empati umumnya menyukai musik rock. Sementara orang penyuka musik pop atau RnB justru memiliki skor psikopat terendah dari penggemar musik yang lain.

Segala perbedaan pendapat itu masih bersifat spekulatif. Artinya masih bisa diperdebatkan benar atau tidaknya. Kepribadian seseorang memang bisa berubah. Tapi semua sepakat bahwa kepribadian asli, bagaimanapun caranya memanipulasi, tidak akan mengalami perubahan yang berarti. Terutama saat sudah beranjak dewasa. Pada akhirnya, penilaian itu kembali pada masing-masing individu.

Comments are closed